Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sistem Penggandengan


SISTEM PENGGANDENGAN
(Laporan Praktikum Alat Dan Mesin Pertanian)

Oleh :
Kelompok 6
1.       Yuliyana                     1614071039
2.      Mey Yuni MS             1614071041
3.       Puji Hartono               1614071059
4.      Wahyu Hendi S          1614071047







JURUSAN TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2017
I.                   PENDAHULUAN



1.1                 Latar Belakang

Alat dan mesin pertanian adalah berbagai alat dan mesin yang digunakan dalam usaha pertanian. Beberapa contoh alat pertanian adalah sprayer tipe gendong dan alat penanam benih padi (transplanter). Sedangkan contoh mesin adalah traktor roda dua, mesin penggiling, dan mesin pemanen padi.

Alat dan mesin pertanian memiliki berbagai peranan dalam usaha pertanian, antara lain:
  • Menyediakan tenaga untuk daerah yang kekurangan tenaga kerja
  • Antisipasi minat kerja di bidang pertanian yang terus menurun
  • Meningkatkan kapasitas kerja sehingga luas tanam dan intensitas tanam dapat meningkat
  • Meningkatkan kualitas sehingga ketepatan dan keseragaman proses dan hasil dapat diandalkan serta mutu terjamin
  • Meningkatkan kenyamanan dan keamanan sehingga menambah produktivitas kerja
  • Mengerjakan tugas khusus atau sulit dikerjakan oleh manusia
  • Memberikan peran dalam pertumbuhan di sektor non pertanian

Sebagai contoh, pekerjaan pengolahan tanahsawah bila menggunakan tenaga manusia diperlukan 50 hari kerja per hektar. Bila dibajak dengan kerbau, membutuhkan 25 hari kerja per hektar. Sedangkan jika dikerjakan dengan traktor roda dua, cukup 10 jam per hektar.

Alat dan mesin (alsin) pertanian dikelompokkan menjadi dua: alsin budidaya tanaman dan alsin pengolahan hasil pertanian. Alsin budidaya pertanian adalah alsin yang digunakan untuk produksi tanaman dan ternak. Contoh alsin untuk produksi tanaman adalah alsin pengolah tanah, mesin tanam, sprayer, mesin pemanen, dan sebagainya. Contoh alsin budidaya ternak adalah alsin penyiapan pakan, aerator, pemerah susu, dan sebagainya.

Alsin pengolahan hasil pertanian adalah alsin yang digunakan untuk menangani atau mengolah hasil tanaman atau hasil ternak. Contoh alsin penanganan dan pengolahan hasil tanaman dan ternak adalah Rice Milling Unit, pengering, thresher, mesin sortasi, mesin pengolah biji sawit, dan sebagainya.Tenaga yang digunakan untuk menggerakan alat dan mesin pertanian di antaranya tenaga manusia, tenaga hewan, tenaga angin, tenaga uap, hingga mesin bensin dan diesel. Lebih lengkapnya, lihat tenaga pertanian.Daya untuk alat dan mesin pertanian pada awalnya adalah tenaga kuda dan hewan lainnya. Dengan adanya penemuan mesin uap, muncul mesin-mesin yang mampu digunakan di lapang (mesin portabel), dan kemudian mesin traksi yang menggantikan fungsi kuda dalam menarik alat dan mesin pertanian. Mesin ini dulunya merupakan modifikasi dari lokomotif uap. Mesin uap ini juga mampu menggerakan mesin lainnya melalui mekanisme sabuk dan puli.Mesin pembakaran dalam (internal combustion engine) mulai menggantikan mesin uap sebagai mesin portabel dan sumber daya pada traktor karena efisiensi dan besarnya daya yang dihasilkan mesin jenis ini pada ukuran mesin yang relatif kecil.

Pada awalnya mesin bensin digunakan, namun perlahan digantikan oleh mesin diesel karena mampu menghasilkan daya yang tinggi pada waktu yang relatif lebih lama. Mesin jenis ini juga menjadi kunci perkembangan mesin combine harvester yang merupakan mesin pemanen yang memiliki sumber daya sendiri sehingga tidak digerakk an dengan traktor.Selain traktor, kendaraan lain yang juga digunakan untuk usaha pertanian antara lain truk untuk pengangkutan hasil pertanian, dan pesawat terbang untuk penyemprotan di udara.


1.2 Tujuan praktikum
Praktikum tentang system penggandengan dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:
1.        Mahasiswa mengetahui system penggandengan satu titik.
2.        Mahasiswa mengetahui system penggandengan tiga titik.
3.        Mahasiswa mengetahui fungsi dari system penggandengan dalam pertanian.







































II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 TRAKTOR
Traktor pertanian saat ini menjadi komponen yang tak terpisahkan dari pembangunan pertanian dan pedesaan. Kita sakasikan perkembangan yang pesat penggunaan traktor tangan di pedesaan. Kita saksikan bahwa jarang penduduk yang telah merasakan manfaat penggunaan traktor untuk melakukan pekerjaan pengolahan tanah secara cepat kemudian beralih memilih menggunakan hewan atau tenaga otot untuk pekerjaan yang sama. Hal tersebut karena mereka dapat memperbandingkan bahwa ternyata melakukan pengolahan tanah dengan traktor lebih menguntungkan dibanding cara lain.Dari asal katanya, traktor berarti alat peghela. Memang fungsi utama traktor ialah untuk menghela sesuatu. Itulah sebabnya semua traktor tentu pada bagian belakangnya dilengkapi dengan sambungan untuk tempat menggandeng alat yang akan dihela tersebut. Pengertian traktor ialah kendaraan bermesin yang khusus dirancang untuk menjadi penghela. Dari sejarahnya, traktor memang dirancang awalnya untuk mengganti hewan hela dengan mesin yang lebih kuat.Pada saat ini traktor digunakan untuk berbagai keperluan. Penggunaan yang paling banyak ialah untuk pengolahan tanah, karena memang pekerjaan pengolahan tanah adalah pekerjaan pertanian yang relatif membutuhkan daya yang besar dibanding pekerjaan lainnya. Selain itu traktor juga digunakan untuk penanaman, untuk pemeliharan tanaman, untuk memutar pompa irigasi, untuk pemanen (dengan memasang pisau reaper), untuk memutar perontok padi, serta untuk pengangkutan, mulai dari bibit, pupuk, peralatan, sampai hasil pertanian)(Depdiknas, 2002).

Traktor tangan (hand tractor) adalah sumber penggerak dari implemen (peralatan) pertanian. Biasanya traktor tangan digunakan untuk mengolah tanah. Namun sebenarnya traktor tangan ini merupakan mesin yang serba guna, karena dapat digunakan untuk tenaga penggerak implemen yang lain, seperti : pompa air, alat prosesing, trailer, dan lain-lain.
Berdasarkan jenis bahan bakar yang digunakan, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1.     Traktor tangan berbahan bakar Solar
2.    Traktor tangan berbahan bakar bensin
3.    Traktor tangan berbahan bakar minyak tanah (kerosin)

Berdasarkan besarnya daya motor, traktor tangan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
·                     Traktor tangan berukuran kecil, tenaga penggeraknya kurang dari 5 hp
·                     Traktor tangan berukuran sedang, tenaga penggeraknya antara 5 – 7 hp
·                     Traktor tangan berukuran besar, tenaga penggeraknya antara 7–12 hp

Catatan :
Traktor dengan bahan bakar bensin dan minyak tanah biasanya berukuran kurang dari 7 hp. Jenis motor yang paling banyak digunakan traktor tangan di Indonesia adalah motor berbahan bakar solar.
Untuk lebih mengenal traktor tangan maka Langkah pertama yang harus dipelajari oleh calon operator untuk dapat mengoperasikan traktor tangan adalah mengenal traktor tangan itu sendiri. Bagian-bagian utama dari traktor tangan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.(Haryono, M. 1996)

2.2 BAJAK
Bajak /plow (peralatan pengolahan tanah pertama). Bajak berdasarkan bentuk dan kegunaannya dibedakan atas : bajak singkal (moldboard plow), bajak piringan (disc plow), bajak putar (rotary plow), bajak pahat (chisel plow), bajak tanah bawah (sub soil plow).
a.   Bajak singkal (moldboard plow)
Bajak singkal termasuk bajak yang paling tua. Di Indonesia bajak singkal inilah yang paling sering digunakan oleh petani untuk melakukan pengolahan tanah, dengan tenaga ternak hela sapi atau kerbau sebagai sumber daya penariknya.Fungsi dari pisau bajak adalah untuk memotong tanah secara horisontal. Biasanya alat ini terbuat dari logam yang berbentuk tajam. Singkal berfungsi untuk menghancurkan dan membalik tanah, karena bentuknya yang melengkung maka pada waktu bajak bergerak maju, tanah yang terpotong akan terangkat ke atas dan kemudian dibalik dan dilemparkan sesuai dengan arah pembalikan bajak. Landside berfungsi untuk mempertahankan gerak maju bajak agar tetap lurus, dengan cara menahan atau mengimbangi gaya kesamping yang diterima bajak singkal pada waktu bajak tersebut digunakan untuk memotong dan membalik tanah.
Untuk meyempurnakan hasil kerjanya, selain bagian-bagian utama di atas, bajak singkal juga dilengkapi dengan perlengkapan tambahan, yaitu roda alur penstabil (furrow wheel), roda dukung (land wheel), kolter, jointer dan kerangka.Furrow wheel berfungsi untuk menjaga kestabilan pembajakan. Land wheel berfungsi untuk mengatur kedalaman sehingga kedalamannya konstan. Kolter berfungsi untuk memotong seresah dan memotong tanah ke arah vertikal sehingga pembalikan tanah menjadi lebih ringan dan biasanya dipasang di depan bajak serta berada sedikit di atas mata bajak. Jointer berfungsi untuk memungkinkan penutupan seresah lebih sempurna dalam pembajakan, terpasang di atas pisau bajak dengan kedalaman kerja + 5 cm. Pada kerangka terdapat titik penggandengan yang nantinya akan dirangkaikan dengan sumber daya penariknya.Penggunaan bajak singkal ini memiliki beberapa kelebihan, antara lain : pembalikan tanah lebih seragam pada tiap petak tanah yang diolah, lebih praktis untuk pengolahan tanah sistem kontur, tidak menimbulkan alur mati (dead furrow) atau alur punggung (back furrow) sehingga pembajakan lebih rata. Bajak singkal dapat dipergunakan untuk mengait dan mencacah gulma, serta pembajakan di bawah vegetasi hijau yang tinggi. Bajak ini bekerja dengan ditarik oleh penggandeng misalnya traktor. Namun bajak jenis ini konstruksinya biasanya lebih berat dan lebih rumit, sehingga untuk ukuran yang besar perlu dilengkapi sistem hidrolis untuk pemutaran mata bajaknya, dengan tenaga operator yang lebih terampil(Hardjosentono. 1996).

2.3 Garu (harrow)
Tanah setelah dibajak pada pengolahan tanah pertama, pada umumnya masih merupakan bongkah-bongkah tanah yang cukup besar, maka untuk lebih menghancurkan dan meratakan permukaan tanah yang terolah dilakukan pengolahan tanah kedua. Alat dan mesin pertanian yang digunakan untuk melakukan pengolahan tanah kedua adalah alat pengolahan tanah jenis garu (harrow). Penggunaan garu sebagai pengolah tanah kedua, selain bertujuan untuk lebih meghancurkan dan meratakan permukaan tanah hingga lebih baik untuk pertumbuhan benih maupun tanaman, juga bertujuan untuk mengawetkan lengas tanah dan meningkatkan kandungan unsur hara pada tanah dengan jalan lebih menghancurkan sisa-sisa tanaman dan mencampurnya dengan tanah titik (Mulyoto H dkk, 1996).
Macam-macam garu yang digunakan untuk pengolahan tanah kedua adalah : garu piringan (disk harrow); garu bergigi paku (spikes tooth harrow); garu bergigi per (springs tooth harrow); dan garu-garu untuk pekerjaan khusus (special harrow).

1.   Garu piringan (disk harrow)
Pada prinsipnya peralatan pengolahan tanah ini hampir menyerupai bajak piringan, khususnya bajak piringan vertikal. Perbedaannya hanya terletak pada ukuran, kecekungan dan jumlah piringannya. Garu piringan mempunyai ukuran dan kecekungan piringan yang lebih kecil dibandingkan dengan bajak, hal ini disebabkan pengolahan tanah kedua dilakukan lebih dangkal dan tidak diperlukan pembalikan tanah yang efektif seperti pengolahan tanah pertama. Selanjutnya karena draft penggaruan lebih kecil dari draft pembajakan, maka dengan besar daya penarikan yang sama, lebar kerja garu akan lebih besar dibandingkan dengan lebar kerja bajak, dengan demikian jumlah piringan garu piringan dengan sendirinya akan lebih banyak dibandingkan dengan bajak piringan. Seperti bajak piringan, bagian-bagian utama dari garu piringan terdiri atas: piringan; poros piringan; penggarak piringan; kerangka. Kadang kala dilengkapi pula dengan roda dukung, apabila sistem penggandengan dengan daya penariknya menggunakan sistem hela (trailing). Garu piringan biasanya tidak dilengkapi dengan roda alur penstabil. Beberapa piringan dari garu piringan dirangkai menjadi satu rangkaian dengan menggunakan satu poros, rangkaian-rangkaian ini biasa disebut sebagai rangkaian piringan (disk gang). Konstruksi garu piringan umumnya terdiri atas dua rangkaian piringan atau empat rangkaian piringan. Ditinjau dari proses penghancuran tanah, langkah penggaruan dapat dibedakan atas ; penggaruan satu aksi (single action) dan penggaruan dua aksi (double action).
Didasarkan atas uraian di atas, garu piringan dibedakan atas garu piringan dua rangkaian satu aksi (single action two gang disk harrow); garu piringan dua rangkaian dua aksi (double action two gang disk harrow); garu piringan empat rangkaian dua aksi atau biasanya disebut tandem (tandem disk harrow). Untukjelasnya konstruksi dari bermacam-macam garu piringan dapat dilihat pada gambar.

2. Garu bergigi paku (spikes tooth harrow)
Garu bergigi paku atau biasa disebut sebagai garu sisir, adalah jenis garu yang sudah umum digunakan petani di Indonesia. Garu sisir yang ditarik hewan, umumnya giginya terbuat dari kayu dan biasa digunakan untuk pengolahan tanah sawah dalam keadaan basah, sebagai pekerjaan lanjutan setelah tanah diolah dengan bajak singkal. Garu bergigi paku yang ditarik dengan tenaga traktor gigi-giginya terbuat dari bahan logam, dipasang pada batang penempatan (tooth bar) dengan di klem atau di las. Konstruksi garu bergigi paku yang ditarik dengan tenaga traktor biasanya terdiri dari satu batang penempatan. Pemasangan gigi pada batang penempatan disusun berselang-seling antara batang penempatan yang satu dengan lainnya. Bentuk gigi paku sangat bervariasi ada yang lurus runcing dan ada yang pipih, ada pula yang berbentuk blimbingan (diamond shape). Kadangkala batang penempatan posisinya dapat diatur atau diputar sehingga memungkinkan untuk merubah sudut gigi pakunya, guna mengatur masuknya gigi di dalam tanah. Batang-batang penempatan selanjutnya dipasangkan pada kerangka penguat dari garu tersebut. Dengan demikian bagian-bagian utama garu bergigi paku atau garu sisir adalah terdiri atas ; gigi paku, batang penempatan dan kerangka penguat. Garu bergigi paku terutama digunakan untuk meratakan dan menghaluskan tanah sesudah pembajakan, lebih cocok digunakan untuk tanah yang mudah hancur. Alat ini cukup efektif untuk memberantas tanaman pengganggu khususnya yang masih kecil-kecil, atau baru tumbuh.
3. Garu bergigi per (spring tooth harrow)
Garu bergigi per ini secara keseluruhan konstruksinya hampir menyerupai garu bergigi paku, hanya gigi-giginya terbuat dari per atau pegas. Juga digunakan untuk meratakan dan menghaluskan tanah sesudah pembajakan. Alat ini juga lebih sesuai digunakan untuk tanah yang mudah dihancurkan. Cocok untuk memberantas gulma yang mempunyai perakaran yang cukup kuat dan dalam. Hal ini dikarenakan garu bergigi per mempunyai penetrasi kedalaman yang lebih besar dibandingkan dengan garu bergigi paku. Dari sifatnya yang lentur dan bentuknya yang lengkung akan dapat mengangkat atau mencabut akar-akar tanaman sehingga terlempar keluar ke permukaan tanah.
4. Garu-garu khusus (special harrow)
Jenis garu-garu khusus, biasanya digunakan untuk mengerjakan pengolahan tanah dengan tujuan yang lebih khusus. Sebagai misal, pengolahan tanah dengan tujuan khusus untuk memusnahkan tanaman pengganggu, menghancurkan seresah, atau untuk menggemburkan tanah secara intensif, atau mungkin bertujuan untuk membuat bedengan (seed bed) yang lebih layak. Penggunaan garu-garu khusus biasanya dilakukan setelah pengolahan tanah pertama dan pengolahan tanah kedua. Macam-macam garu khusus antara lain adalah : pencacah gulma atau seresah (weeder mulcher); garu potong putar (rotary cross harrow); penggemburan tanah (soil surgeon))(Soedijanto, 1971).












III METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Waktu dan Tempat
Waktu pelaksanaan praktikum ALSINTAN  dengan judul “pengenalan alat pengolahan tanah sekunder” ini dilaksanan pada hari Kamis 5 april 2018, sedangkan tempat pelaksanaannya berada di Laboratorium Daya Alat Dan Mesin Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah traktor, alat tulis, kamera, dan bajak singkal.

3.3 Prosedur Kerja
Beberapa prosedur kerja yang harus dilakukan yaitu:
1.    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.    Dijelaskan oleh asisten tentang system penggandengan.
3.    Dilakukan penggandengan garu piring dengan traktor.
4.    Dilakukan pengoperasian traktor dengan implement yang telah digandengkan.
5.    Dilakukan pembongkaran penggandengan.
6.    Hasil.




I.                   PEMBAHASAN

Dalam pemasangan implemen traktor yang perlu diperhatikan adalah posisi traktor dan implement yang akan dipasangkan terhadap traktor harus sejajar. Jika traktor yang akan dipasangkan tidak sejajar dengan implementnya maka akan terjadi kesulitan dalam memasangkannya. Cara pemasangan implement traktor :
1. Memposisikan traktor tepat sejajar dengan implement yang akan dipasangkan. Disini pengemudi harus mahir dalam mengendalikan traktor agar pemasangan implement menjadi mudah dan cepat. Jika pengemudi tidak mahir dalam mengendalikan traktor maka pemasangan implement akan sangat memakan waktu dan sulit. Patokannya adalah kita perhatikan bagian upper hitch point pada traktor harus sejajar dengan implementnya.
2.Setelah implement dan traktor dalam sejajar, aturlah jarak traktor dan implement hingga tepat. Patokannya adalah bagian three point hitch pada traktor telah sesuai dengan lubang pada batang penarik (beam) pada implement. Kita dapat mensesuaikan kedua lower link arm dengan menaikkan atau menurunkanya hingga sesuai dengan lubang yang terdapat pada implement dengan cara menekan atau menarik tuas yang berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan lower link arm disanping jok kemudi.
3.Dalam pemasangan three point hitch terhadap implement, hal pertama yang harus dilakukan adalah memasangkan bagian sebelah kiri terlebih dahulu pada batang penarik pada implement. Hal ini dikarenakan pada bagian sebelah kiri (lower link arm dan lift arm) sebelah kiri bersifat static. Setelah itu sesuaikan lubang pada implement dengan lower hitch point dan kunci dengan menggunakan pin. Setlah bagian sebelah kiri terpasang barulah kita memasang bagian sebelah kanannya dengan cara yang sama. Jika bagian sebelah kanan tidak sesuai kita dapat mengaturnya karena (lower link arm dan lift arm) bersifat dinamis. Setelah kedua lower hitch point terpasang barulah kita dapat memasang upper hitch point dengan cara yang sama yaitu dengan menyesuaikan lubang pada btang penarik yang terdapat pada implement dengan upper hitch point lalu menguncinya dengan sebuah pin.
4.Setelah semua three hitch pint terpasang barulah kita kencangankan alat yang menyatu dengan lower link arms yang berbentuk seperti ulir, hingga lower link arm tidak dapat bergerak lagi.
5.Setelah semua siap barulah traktor dan implementnya dapat digunakan.

Implemen traktor adalah peralatan yang digunakan pada traktor sesuai dengan kegunaannya. Sebuah traktor tidak dapat digunakan untuk mengolah tanah jika traktor tersebut tidak dip[asangi oleh implement. Implement pada traktor dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu :
• Alat pembuka Alat penghancur atau penghalus Alat perata atau pembendeng Alat pemeliharaan Implement terpenting dalam pengolahan tanah adalah bajak (Plow) dan rotary tiller. Rotary tiller dapat juga dipakai sebagai alat penghancur. Bajak sendiri dibagi menjadi 2 macam :
 • Single action : bajak hanya dapat memotong dan melemparkan tanah ke salah satu arah saja.
• Double action : bajak yang dapat diatur arah pelemparan tanahnya (ke kiri atau ke kanan). Reversible plow ini lebih banyak memiliki fungsi dibandingkan dengan bajak single action. Cara menggandengkannya dengan traktor ialah dengan memasangkannya pada drawbar atau hitch dan memasangkan pin. Sebelum pemasangan bajak dilakukan, roda untuk membajak harus dipasang dahulu. Misalnya untuk membajak tanah yang kering akan lain rodanya dengan untuk membajak tanah yang basah. Bajak Piringan Bajak piringan dikembangkan sekitar tahun 1890. model-model didaftar dalam katalog menjelang tahun 1895. salah satu patent tertua untuk bajak piringan diperoleh M.A. dan I.M. Cravath, Blomington, Illionis. Semenjak tahun 1900, pengembangan bajak piringian mengikuti kecenderungan yang serupa dengan bajak singkal.
Kita dapat menemukan dua jenis sistem penggandengan pada traktor yang banyak beredar di masyarakat, yakni :
1.        Sistem penggandengan satu titik (trailing)
Sistem penggandengan trailing pada traktor ini pada umumnya digunakan untuk menggandeng peralatan transportasi. Salah satu syarat dari Mesin atau alat yang digandeng oleh traktor ini adalah harus memiliki roda sendiri, sehingga beban tidak disangga oleh traktor. Peralatan tambahan pada traktor untuk sistem penggandengan sistem trailing adalah drawbar.

2. Sistem penggandengan tiga titik (Mounted)
Sistem penggandengan mounted ini menggunakan tiga titik pengandengan yang terdiri dari dua titik penggandengan bawah (low link) dan satu titik penggandengan atas (top link). Sistem ini dilengkapi dengan sistem hidrolis yang berfungsi untuk mengangkat dan menurunkan alat/mesin pertanian yang digandeng. Alat/mesin pertanian yang digandeng tidak dilengkapi roda, sehingga berat alat/mesin yang digandeng dibebankan kepada traktor.Sistem ini biasanya digunakan untuk menggandeng bajak, garu, alat penyiang dan lain-lain.
Implement pertanian adalah alat - alat pertanian yang penggunaanya digandengkan dengan sumber tenaga penggerak/penarik baik menggunakan tenaga manusia, tenaga hewan, maupun tenaga traktor. Implement pertanian antara lain bajak singkal, bajak rotary, bajak piring, garu dengan jenisnya, dll.  System penggandengan implement dapat dibagi menjadi 2, yaitu system penggandengan 1 titik, dan system penggandengan 3 titik (Soedijanto, 1971).
Titik gandeng yaitu titik yang menggandengkan implemen atau trailer dengan traktor.Fungsi titik gandeng yaitu untuk menyalurkan gaya dari traktor-implemen, mengatur pergerakan dan posisi relatif antara traktor dan implement, mempermudah pertukaran implement (Harris Pearson Smith,1996).
Tipe drawbar/sistem penggandengan 1 titik yang berfungsi   untuk menarik trailer tanpa dapat mengangkutnya untuk transportasi. System  penggandengan 3 titik/Tiga-titik gandeng (three-point hitch) adalah bagian dari traktor yang berfungsi untuk menggandeng implemen. Dua buah lower link, kiri dan kanan, mampu bergerak naik yang dioperasikan oleh tekanan hidrolik, dan bergerak turun oleh gaya gravitasi. Implemen dapat dinaik-turunkan oleh operator melalui alat ini dari kursi duduk operator. Pada saat mengolah tanah, implemen pengolahan tanah umumnya diangkat pada saat traktor berbelok. Bila peralatan stasioner, misalnya alat perontok atau pompa air dioperasikan melalui pemanfaatan poros pto, maka alat-alat tersebut akan dapat dengan mudah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya apabila alat-alat tersebut dipasangkan pada tiga-titik gandeng (Haryono. 1982).






V KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah:
1.        Penggandengan satu titik digunakan untuk menggandeng peralatan transportasi.
2.        Penggandengan tiga titik digunakan untuk menggandeng bajak, garu, alat penyiang dan lain-lain.
3.        Penggandengan dalam pertanian berfungsi untuk menggandeng alat dan mesin saat melakukan  pengolahan tanah.



Posting Komentar untuk "Sistem Penggandengan"