Laporan Akhir Praktikum Teknik Hidroponik " PENGAMATAN TANAMAN KANGKUNG DAN SAWI DENGAN SISTEM HIDROPONIK"
Oleh:
Ivo Ali Saifullah
Alwi
1814071054
JURUSAN
TEKNIK PERTANIAN
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
LAMPUNG
2020
DAFTAR ISI
DAFTAR
ISI....................................................................................................... ii
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang......................................................................................
1
1.2
Tujuan Praktikum..................................................................................
2
1.3
Hipotesis................................................................................................
2
1.4
Manfaat Pratikum..................................................................................
2
II. TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Sayuran Hidroponik.............................................................................
3
2.1.1
Kangkung....................................................................................
3
2.1.2 Sawi.............................................................................................
3
2.2
Hidroponik........................................................................................... 4
2.3
Larutan Nutrisi..................................................................................... 5
2.4
EC Larutan Nutrisi................................................................................
6
III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1
Waktu dan Tempat................................................................................
7
3.2
Alat dan
Bahan..................................................................................... 7
3.3
Metode Praktikum ................................................................................ 7
3.4
Pelaksanaan Penelitian......................................................................... 7
3.4.1 Persiapan Peralatan Hidroponik................................................. 7
3.4.2 Pembersihan Instalasi Hidroponik.............................................
7
3.4.3 Persemaian Tanaman...................................................................
7
3.4.4 Pembuatan Larutan Nutrisi .........................................................
8
3.4.5 Penanaman..................................................................................
8
3.4.6 Pemeliharaan Tanaman Pemanenan............................................
8
3.4.7 Pemanenan ................................................................................
8
3.5
Pengamatan Pertumbuhan....................................................................
8
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1
Pengamatan Harian...............................................................................
9
4.1.1 Konduktivitas Elektrik (EC)......................................................
11
4.1.2 Derajat Keasaman (pH)..............................................................
11
4.2
Pengamatan Pertumbuhan...............................................................
12
4.2.1 Tinggi Tanaman....................................................................
12
4.2.2 Jumlah Daun.........................................................................
13
4.2.3 Lebar Daun...........................................................................
14
4.3 Hasil Panen.................................................................................. 15
4.3.1 Bobot Kangkung dan Sawi.....................................................
15
4.4
Kendala.........................................................................................
15
V. KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1
Kesimpulan.....................................................................................
16
5.2
Saran...............................................................................................
17
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................
18
LAMPIRAN..........................................................................................................
19
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hidroponik menjadi suatu cara pembudidayaan tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai media pertumbuhan. Media tanah diganti dengan arang sekam/pasir. Karena media yang digunakan bukan tanah, nutrisi yang diperlukan tanaman berbentuk larutan. Tidak seperti media tanah yang memiliki unsur hara yang berupa zat-zat penting bagi tumbuhan. Hidroponik memiliki keunggulan yaitu tidak memerlukan lahan yang luas. Jadi tidak perlu berkeliling ladang yang luas untuk perawatan dan panen. Hidroponik merupakan salah satu alternatif bagi petani yang tidak memiliki lahan yang cukup untuk becocok tanam.
Banyak petani di Indonesia menggunakan sistem hidroponik. Karena bercocok tanam dengan sistem hidroponik memiliki banyak keuntungan. Salah satunya adalah kualitas tanaman yang baik. Dengan meningkatnya kualitas tanaman, maka secara otomatis mendongkrak harga tanaman dipasaran. Karena itu kebanyakan tanaman yang dikembangkan dengan sistem hidroponik adalah tanaman yang memiliki nilai ekonomi. Tanaman yang dibudidayakan dengan hidroponik juga lebih mudah terhindar dari erosi dan kekeringan. Dengan perawatan intensif, satu tanaman pada sistem hidroponik dapat menghasilkan lebih banyak dari pada ditanam konvensional. Panen dengan cara hidroponik juga terbilang lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional, karena para petani tidak perlu waktu terlalu lama untuk menunggu masa tanam atau masa panen.
Dengan diterapkannya hidroponik di Indonesia diharapkan mampu mengatasi kekurangan lahan dan hasil produksi pangan. Meskipun sistem hidroponik bukanlah teknologi baru lagi bagi kita, namun justru kini telah menjadi trend ketika media tanah yang produktif semakin berkurang. Selain tidak memakan tempat yang luas, sistem ini juga mudah perawatannya serta lebih menguntungkan.
1.2 Tujuan Praktikum
Tujuan
dari praktikum ini yaitu sebagai
berikut :
1. Untuk
mengetahui hasil panen sayuran dalam sistem hidroponik NFT dan DFT
2. Untuk
mengetahui pengaruh EC,
pH
dan nutrisi pada tanaman hidroponik
3. Untuk mengetahui pengaruh faktor eksternal terhadap tanaman yang ditanam
1.3 Hipotesis
Hipotesis dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Sistem
hidroponik NFT dan DFT mempengaruhi hasil panen pada tanaman hidroponik.
2. EC, pH dan nutrisi mempengaruhi
hasil panen pada tanaman hidroponik.
3. Faktor eksternal mempengaruhi tanaman yang ditanam
1.4 Manfaat Pratikum
Manfaat dari praktikum ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai cara bercocok tanaman dengan menggunakan sistem hidroponik. Bercocok tanam dengan hidroponik dimulai dari penyiapan alat dan bahan, penyemaian, pindah tanam, perawatan, pengendalian nutrisi dan hama, dan pemanenan. Dimana terdapat perbedaan antara cara menanam sayuran dengan cara konvensional dan hidroponik.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sayuran
Hidroponik
2.1.1 Kangkung
Kangkung merupakan tanaman yang dapat tumbuh lebih dari satu tahun. Tanaman kangkung memiliki sistem perakaran tunggang dan cabang-cabangnya akar menyebar kesemua arah, dapat menembus tanah sampai kedalaman 60 hingga 100 cm, dan melebar secara mendatar pada radius 150 cm atau lebih, terutama pada jenis kangkung air. Batang kangkung bulat dan berlubang, berbuku-buku, banyak mengandung air (herbacious) dari buku-bukunya mudah sekali keluar akar. Memiliki percabangan yang banyak dan setelah tumbuh lama batangnya akan menjalar (Djuariah, 2007).
Kangkung memiliki tangkai daun melekat pada buku-buku batang dan di ketiak daunnya terdapat mata tunas yang dapat tumbuh menjadi percabangan baru. Bentuk daun umumnya runcing ataupun tumpul, permukaan daun sebelah atas berwarna hijau tua, dan permukaan daun bagian bawah berwarna hijau muda. Selama fase pertumbuhanya tanaman kangkung dapat berbunga, berbuah, dan berbiji terutama jenis kangkung darat. Bentuk bunga kangkung umumnya berbentuk “terompet” dan daun mahkota bunga berwarna putih atau merah lembayung (Djuariah, 2007).
2.1.2 awi
Sawi umumnya mudah berbunga dan berbiji secara alami baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Stuktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun
mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua. Daerah penanaman yang cocok untuk pertumbuhan tanaman sawi adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai 1200 meter dpl (Rukmana, 2002).
Namun, biasanya tanaman ini dibudidayakan di daerah ketinggian 100 - 500 m dpl. Sebagaian besar daerah daerah di indonesia memenuhi syarat ketinggian tersebut. Tanaman dapat melakukan fotosintesis dengan baik memerlukan energi yang cukup. Cahaya matahari merupakan sumber energi yang diperlukan tanaman untuk proses fotosintesis. Energi kinetik yang optimal diperlukan tanaman untuk pertumbuhan dan produksi berkisar antara 350 - 400 cal/cm2 setiap hari. Sawi hijau memerlukan cahaya matahari tinggi (Cahyono, 2003).
2.2 Hidroponik
Prinsip dasar budidaya tanaman secara hidroponik adalah suatu upaya merekayasa alam dengan menciptakan dan mengatur suatu kondisi lingkungan yang ideal bagi perkembangan dan pertumbuhan tanaman sehingga ketergantungan tanaman terhadap alam dapat dikendalikan. Rekayasa faktor lingkungan yang paling menonjol pada hidroponik adalah dalam hal penyediaan nutrisi yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang tepat dan mudah diserap oleh tanaman. Untuk memenuhi kebutuhan sinar matahari dan kelembaban udara yang diperlukan tanaman selama masa pertumbuhannya, perlu dibangun greenhouse yang berfungsi untuk mengatur suhu dan kelembaban udara yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Bertanam secara hidroponik sebenarnya sangat cocok dikembangkan baik skala rumah tangga maupun skala industri. Menurut Hudoro (2003) keuntungan hidroponik secara umum yaitu:
1.
Tidak memerlukan lahan yang luas, sehingga bertanam dengan cara
hidroponik dapat dilakukan di dalam
ruangan sekalipun.
2.
Kebutuhan air, unsur hara, maupun sinar matahari dapat diatur menurut
jenis
dan kebutuhan tanaman, baik secara manual, maupun mekanik ataupun elektrik.
3.
Pengontrolan hama lebih mudah.
4.
Kebutuhan lahan dan tenaga dapat dihemat.
5.
Pada lahan yang relatif sama dapat ditanam lebih dari satu tanaman.
6.
Kondisi tanaman dan lingkungan lebih bersih.
7.
Media tertentu dapat dipakai berulang kali, seperti pecahan batu bata, perlit
dan batu koral split.
8. Tidak diperlukan perlakuan khusus seperti penggemburan tanah karena media tanamnya bukan tanah (Hudoro, 2003).
Berdasarkan
penggunaan larutan nutrisinya, hidroponik digolongkan
menjadi
dua, yaitu hidroponik sistem terbuka dan hidroponik sistem tetutup.
Pada
hidroponik sistem terbuka, larutan nutrisi dialirkan ke daerah perakaran
tanaman
dan kelebihannya dibiarkan hilang. Sedangkan hidroponik sistem
tertutup,
kelebihan larutan nutrisi yang diberikan, ditampung dan
disirkulasikan
kembali ke daerah perakaran tanaman. Pada hidroponik sistem
tertutup,
kandungan unsur-unsur hara dalam larutan nutrisi akan berubah
seiring dengan penyerapannya oleh tanaman (Chadirin, 2007).
2.3 Larutan
Nutrisi
Larutan nutrisi sebagai sumber pasokan air dan mineral nutrisi merupakan faktor penting untuk pertumbuhan dan kualitas hasil tanaman hidroponik, sehingga harus tepat dari segi jumlah, komposisi ion nutrisi dan suhu. Nutrisi hidroponik dibuat dengan menggabungkan hara makro dan hara mikro sesuai kebutuhan tanaman. Unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah yang banyak, terdiri atas C, H, O, N, P, K, Ca, Mg dan S. Apabila tanaman kekurangan unsur hara makro akan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Unsur hara mikro adalah unsur hara yang diperlukan oleh tanaman tetapi dalam jumlah sedikit. Unsur hara mikro ini mutlak dibutuhkan oleh tanaman. Jika kekurangan unsur hara mikro ini maka tanaman tidak akan tumbuh dengan optimal. Jenis unsur hara mikro ini adalah Mn, Cu, Fe, Mo, Zn, B (Wijayani, 1998).
Larutan nutrisi juga dapat dipertahankan dan dikontrol sesuai dengan kebutuhan tanaman dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Hal ini mendasari adanya sistem kontrol secara sederhana maupun otomatis pada larutan nutrisi. Selain EC dan konsentrasi larutan nutrisi, suhu dan pH merupakan komponen yang sering dikontrol untuk dipertahankan pada tingkat tertentu untuk optimalisasi tanaman. Suhu dan pH larutan nutrisi dikontrol dengan tujuan agar perubahan yang terjadi oleh penyerapan air dan ion nutrisi tanaman (terutama dalam hidroponik dengan sistem yang tertutup) dapat dipertahankan. Suhu yang terlalu rendah dan terlalu tinggi pada larutan nutrisi dapat menyebabkan berkurangnya penyerapan air dan ion nutrisi, untuk tanaman sayuran suhu optimal antara 5-150 C dan tanaman buah antara 15-250 C (Savvas and Manos. 1999).
2.4 EC Larutan Nutrisi
Dalam hal menyiapkan nutrisi untuk tanaman hidroponik, dengan mengukur TDS, maka dapat diperkirakan kecukupan nutrisi atau kepekatan larutan yang disiapkan untuk tanaman tertentu.Satuan TDS adalah ppm. Ppm adalah singkatan dari parts per million atau se per satu juta.PPM merupakan salah satu satuan konsentrasi yang menyatakan perbandingan bagian dalam satu juta bagian yang lain. Sedangkan pH yang merupakan singkatan dari power of hydrogen adalah tingkatan asam basa suatu larutan yang diukur dengan skala 0 sampai dengan 14 (Harjoko, 2009).
Teknik
hidroponik yang merupakan cara bercocok tanam dengan tidak menggunakan tanah
sebagai media tanam kurang lebih bergantung dengan bagaimana pembacaan TDS dan
pH, sebagai tolak ukur penyiraman sekaligus pemberian pupuk atau biasa disebut
air nutrisi. Tinggi rendahnya pH air sangat dipengaruhi oleh kandungan mineral
lain yang terdapat dalam air. Bisa juga digunakan EC atau (Electro
Conductivity) untuk mengukur nutrisi, 1mS/cm= 700 ppm. Tanaman hidroponik
memiliki ukuran TDS yang berbeda setiap fasenya, yakni menunjukan gambaran
berapa nutrisi yang memang dibutuhkan tanaman pada umur sekian, sebagai contoh
adalah tanaman selada keriting jenis grand rapids memiliki tiga fase ukuran TDS
(Harjoko, 2009).
III.
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan April 2020 yang bertempat di Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan yaitu instalasi hidroponik DFT, instalasi hidroponik NFT, pH meter, TDS, EC meter, penggaris, alat tulis, timbangan, nampan, netpot, pisau, ember dan jerigen. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih tanaman kangkung, sawi, rockwool dan larutan Nutrisi.
3.3 Metode Praktikum
3.3.1 Persiapan Tempat Praktikum
Sebelum praktikum dilakukan instalasi hidroponik DFT dan instalasi hidroponik NFT dibersihkan terlebih dahulu terutama pada bagian talangnya. Talang yang bersih akan membuat tanaman sehat, subur dan memudahkan dalam kegiatan penyusunan media tanam.
3.3.2 Persemaian
Sebelum dilaksanakannya penanaman, terlebih dahulu dilakukan kegiatan penyemaian benih. Penyemaian benih dilakukan pada rockwool dan sekam bakar.. Benih akan disemai selama kurang lebih 1 minggu sebelum pindah tanam dengan selalu memperhatikan kebutuhan air agar perkembangan benih berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
3.3.3 Pindah Tanam
Pindah tanam dilakukan pada waktu bibit tanaman kangkung dan sawi telah memiliki daun 2-3 helai atau berumur 6 sampai 8 hari. Bibit tanaman dipindahkan secara hati-hati ke netpot kemudian dipindahkan dalam talang. Selain itu, bibit ang ditanam di media sekam akar dipindahkan ke media rockwool, dengan cara menyisipkan bibit ang telah dibersihkan dari sekam bakar ke dalam rockwool yang telah dibelah setengah tetapi tidak sampai putus, lalu dipindahkan ke netpot.
3.3.4 Pemeliharaan
Tanaman yang sudah dipindahkan ke talang atau tanaman yang sudah dipindahkan ke sistem hidroponik DFT dan NFT setiap hari harus diukur ec, ph, larutan nutrisi dan ketersediaan air di tandon sedangkan untuk pengukuran tanaman dilakukan setiap satu minggu sekali.
3.3.5 Panen
Pemenenan tanaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Adapun kriteria panen tanaman apabila bentuk helaian daun sudah maksimal dan sebelum bunga muncul. Pemanenan dilakukan dengan cara mengambil netpot dari intalasi, mengeluarkan rockwool dari netpot dan dibersihkan bagian bonggol akarmya ( untuk sawi ) dan dipotong batang dekat perakaran ( untuk kangkung ).
3.4 Pengamatan Pertumbuhan
Pengamatan
ini dilakukan secara manual yaitu dengan cara individu perwakilan mengecek
tanaman apakah terjadi kendala tiap minggunya, contohnya seperti adanya hama
pada tanaman, dan juga kurangya air nutrisi. Dari pengamatan ini dilakukan
untuk mengetahui proses perkembangan pertumbuhan masing-masing jenis tanaman.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan Harian
Hasil
pengamatan ini ditunjukkan dalam tabel sebagai berikut :
Tabel
1. Konduktivitas Elektrik (EC) dan pH Kangkung dan Sawi
|
z |
Tanggal |
Parameter |
||
|
|
|
Keterangan |
||
|
PPM |
PH |
|||
|
1 |
25 Maret 2020 |
842 |
- |
Saat tanaman pindah tanam, nutrisi
diberikan sebesar 842 PPM dan suhu tidak diukur. |
|
26 Maret 2020 |
|
|
Tidak dilakukan pengukuran EC dan pH |
|
|
27 Maret 2020 |
|
|
||
|
28 Maret 2020 |
|
|
||
|
29 Maret 2020 |
- |
- |
||
|
30 Maret 2020 |
|
|
||
|
31 Maret 2020
|
|
|
||
|
2 |
01 April 2020 |
800 |
7.56 |
EC berkurang karena
terserap tanaman |
|
02 April 2020 |
826 |
7.49 |
Penambahan nutrisi AB Mix |
|
|
|
03 April 2020 |
810 |
7.42 |
EC berkurang karena terserap
tanaman |
|
04 April 2020 |
- |
- |
- |
|
|
05 April 2020 |
- |
- |
- |
|
|
06 April 2020 |
793 |
7.45 |
EC berkurang karena terserap
tanaman |
|
|
07 April 2020 |
1776 |
8.26 |
Penambahan air dan nutrisi AB Mix |
|
|
3 |
08 April 2020 |
1889 |
8.22 |
Ph cenderung tinggi |
|
09 April 2020 |
1880 |
8.17 |
Ph cenderung tinggi |
|
|
10 April 2020 |
1886 |
8.14 |
Penambahan air dan nutrisi AB Mix |
|
|
11 April 2020 |
- |
- |
- |
|
|
12 April 2020 |
- |
- |
- |
|
|
13 April 2020 |
1618 |
8.12 |
Ph cenderung tinggi |
|
|
14 April 2020 |
1417 |
8.16 |
EC berkurang karena terserap
tanaman |
|
|
4 |
15 April 2020 |
|
|
Tidak dilakukan pengukuran karena
kondisi yang tidak memungkinkan |
|
16 April 2020 |
|
|
||
|
17 April 2020 |
|
|
||
|
18 April 2020 |
- |
- |
||
|
19 April 2020 |
|
|
||
|
20 April 2020 |
|
|
||
|
21 April 2020 |
|
|
||
|
5 |
22 April 2020 |
|
|
Tidak dilakukan pengukuran karena
kondisi yang tidak memungkinkan |
|
23 April 2020 |
|
|
||
|
24 April 2020 |
|
|
||
|
25 April 2020 |
|
|
||
|
26 April 2020 |
|
|
||
|
27 April 2020 |
|
|
||
|
28 April 2020 |
|
|
4.1.1 Konduktivitas Elektrik (EC)
Tanaman
kangkung dan sawi ditanam pada sistem yang sama dan berada pada aliran nutrisi
yang sama. 1 mS/cm sama dengan 700 ppm atau mendekati. Kebutuhan nilai EC untuk
tanaman kangkung berkisar 1050 – 1400 ppm atau sama dengan 1.5 – 2.0 mS/cm
sedangkan untuk tanaman sawi juga berkisar 1050 – 1400 ppm atau sama dengan 1.5
– 2.0 mS/cm, sehingga bisa ditanam pada sistem aliran yang sama. Pemberian
nutrisi dilakukan secara bertahap setiap minggu untuk menaikkan nilai EC
seiring dengan kebutuhan tanaman untuk tumbuh. Pada awalnya, nutrisi yang
diberikan sekitar 842 ppm.
Terjadi penurunan nilai EC pada tandon, hal tersebut dikarenakan penyerapan nutrisi yang dilakukan akar tanaman. Pada saat itulah setelah diketahui terjadi penurunan nilai EC, perlu ditambahkan nutrisi AB mix untuk menjaga ketersediaan nutrisi untuk tanaman. Ketika terjadi kenaikan nilai EC atau ppm, disebabkan air didalam tandon berkurang yang disebabkan penguapan, saat itula perlu ditambahkan air untuk menjaga aliran dalam sistem
4.1.2 Derajat Keasaman(pH)
Tanaman kangkung dan sawi ditanam pada sistem yang sama dan berada pada aliran nutrisi yang sama. Tingkat pH yang diperlukan kedua tanaman itu sama, yaitu 5.5 – 6.5. Tetapi saat pada praktikum pH yang digunakan sekitar 7.5-8.2. Nilai pH yang digunakan cenderung mempengaruhi ketersediaan unsur hara pada larutan nutrisi. PH yang terlalu tinggi menimbulkan pengendapan unsur-unsur mikro dalam nutrisi. Sehingga akar tidak dapat menyerap unsur hara mikro tersebut. Salah satu unsur hara mikro yang tidak dapat diserap secara optimal oleh akar adalah Cl (klor). Kadar pH yang terlalu tinggi bisa disebabkan nilai pH air baku yang digunakan memang sudah tinggi dan disebabkan penambahan nutrisi AB mix. Ketika pH terlalu tinggi perlu diturunkan melalui unsur asam dan ketika pH terlalu rendah perlu ditambahkan unsur basa supaya pH mendekati 5.5-6.5.
4.2 Pengamatan Pertumbuhan
Tabel
2. Pengamatan Tanaman Kangkung
|
Minggu Ke- |
Tanaman Ke-
|
Parameter |
||
|
Tinggi Tanaman (cm) |
Jumlah Daun |
Lebar Daun |
||
|
Minggu
2 01
April 2020
|
1 |
12.5 |
2 |
1.5 |
|
2 |
5 |
1 |
0.5 |
|
|
Minggu
3 08
April 2020
|
1 |
16 |
4 |
1.8 |
|
2 |
7 |
3 |
1 |
|
|
Minggu
4 15
April 2020
|
1 |
- |
- |
- |
|
2 |
- |
- |
- |
|
|
Minggu
5 22
April 2020
|
1 |
- |
- |
- |
|
2 |
- |
- |
- |
|
Tabel
3. Pengamatan Tanaman Sawi
|
Minggu Ke- |
Tanaman Ke-
|
Parameter |
||
|
Tinggi Tanaman (cm) |
Jumlah Daun |
Lebar Daun |
||
|
Minggu
2 01
April 2020
|
1 |
8.5 |
7 |
3 |
|
2 |
11 |
6 |
4.5 |
|
|
3 |
11 |
6 |
2.6 |
|
|
4 |
6 |
5 |
4.4 |
|
|
5 |
7.5 |
7 |
4.8 |
|
|
6 |
11.5 |
5 |
3 |
|
|
7 |
8 |
6 |
1.5 |
|
|
Minggu
3 08
April 2020
|
1 |
10.3 |
9 |
6 |
|
2 |
13.5 |
7 |
8.5 |
|
|
3 |
12.5 |
8 |
4 |
|
|
4 |
7.8 |
7 |
7 |
|
|
5 |
9 |
8 |
8 |
|
|
6 |
12.8 |
8 |
5.5 |
|
|
7 |
9.7 |
7 |
4.5 |
|
|
Minggu
4 15
April 2020
|
1 |
- |
- |
- |
|
2 |
- |
- |
- |
|
|
3 |
- |
- |
- |
|
|
4 |
- |
- |
- |
|
|
5 |
- |
- |
- |
|
|
6 |
- |
- |
- |
|
|
7
|
- |
- |
- |
|
|
Minggu
5 22
April 2020
|
1 |
- |
- |
- |
|
2 |
- |
- |
- |
|
|
3 |
- |
- |
- |
|
|
4 |
- |
- |
- |
|
|
5 |
- |
- |
- |
|
|
6 |
- |
- |
- |
|
|
7 |
- |
- |
- |
|
4.2.1 Tinggi Tanaman
Pada tanaman kangkung, pengukuran tinggi dilakukan pada minggu kedua setelah tanam atau 2 minggu MST. Pengukuran dilakukan setiap minggu pada pagi hari, yaitu pukul 10.00 WIB. Pengukuran dilakukan menggunakan penggaris, dimana tanaman kangkung diukur dari permukaan atas rockwool sampai pucuk daun tertinggi. Pertambahan tinggi yang cukup signifikan terjadi antara minggu ke-2 dan minggu ke-3 MST. Pertambahan tinggi kangkung mulai konstan saat minggu ke-3 MST sampai dipanen yaitu pada minggu ke-4 MST.
Pada
tanaman sawi, pengukuran tinggi dilakukan pada minggu kedua juga menggunakan
cara dan alat yang sama, yaitu menggunakan penggaris. Pertambahan tinggi
tanaman sawi berkisar 2-3 cm per minggunya, tetapi pertambahan tinggi pada tiap
tanaman tidak merata. Terdapat tanaman yang memiliki pertambahan tinggi 2,5 cm
tetapi ada juga yang pertambahan tingginya 1,3 cm. Pertambahan tinggi yang
cukup signifikan terjadi pada saat minggu ke-2 sampai minggu ke-3 MST, setelah
pertambahan tinggi tanaman mulai turun dan akhirnya konstan saat memasuki
minggu ke-4 tanam.
4.2.2 Jumlah Daun
Pada tanaman kangkung, penghitungan jumlah daun diimulai pada minggu ke-2 MST. Daun yang dihitung meliputi bakal daun muda dan daun yang sudah tua. Rata-rata tanaman kangkung memiliki daun utuh yang terhitung 2-4 helai. Daun yang terhitung adalah daun yang kondisinya utuh. Pada tanaman kangkung yang ditanam terkena hama sehingga banyak daun yang habis dimakan dan hanya tersisa beberapa daun dan daun muda yang akan tumbuh.
Pada tanaman sawi, penghitungan tinggi dilakukan pada minggu kedua juga menggunakan cara yang sama. Pertambahan jumlah daun pada tiap minggunya relatif sama dari minggu ke-2 sampai minggu ke-4 yaitu 1-3 helai daun. Pertambaan jumlah daun mulai menurun saat memasuki minggu ke-4 sampai panen.
4.2.3 Lebar Daun
Pada tanaman kangkung, pengukuran lebar daun dilakukan dengan menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan pada minggu ke-2 MST. Pertambahan lebar daun setiap minggunya antara 0,3 - 0,5 cm. Pertambahan lebar itu terjadi mulai minggu ke-2 sampai minggu ke-4.
Pada tanaman sawi, pengukuran lebar daun juga dilakukan dengan menggunakan penggaris. Pengukuran dilakukan pada minggu ke-2 MST. Pertambahan lebar daun setiap minggunya cukup tinggi yaitu berkisar 1,5 – 4 cm. Lonjakan pertambahan lebar daun terjadi antara minggu ke-2 sampai minggu ke-3, dan setelahnya pertambahan lebar daun menurun.
4.3 Hasil Panen
Tabel
4. Hasil Panen Kangkung dan Sawi
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
4.3.1 Bobot Kangkung dan Sawi
Pada minggu ke-5, tanaman kanggkung dan sawi dipanen. Pemanenan dilakukan secara manual. Pengukuran yang dilakukan pada saat pemanenan adalah lebar daun tinggi tanaman dan jumlah daun pada tanaman menggunakan penggaris. Pengukuran yang dilakukan juga meliputi penimbangan bobot tanaman menggunakan timbangan digital. Pada tanaman kangkung saat dipanen diperoleh tinggin tanaman 18 cm dan 8.3 cm, lebar daun dan jumlah daun 0 karena pada tanaman kangkung terkena hama yang menyerang daun. Pada saat ditimbang, diperoleh bobot 20 gram dan 12 gram. Pada tanaman sawi saat dipanen tanaman nomor 2 paling tinggi yaitu 14 cm, tanaman nomor 1 dan 5 yang memiliki jumlah daun paling banyak yaitu 10 helai daun dan pada tanaman nomor 2 memliki daun paling lebar.
4.4 Kendala
Dalam praktikum ini terdapat kendala yaitu pelaksanaan jadwal untuk melakukan pengecekan EC, pH, dan pertumbuhan tanaman terganggu. Hal tersebut diakibatkan terjadinya pandemi virus COVID-19 yang melanda wilayah Indonesia termasuk Lampung. Akibat terganggunya pelaksanaan jadwal yang telah ditetapkan, ketika nutrisi di tandon sudah mulai turun tidak diketahui, dan sebagai akibatnya ketika dicek pada hari berikutnya tanaman mengalami defisiensi nutrisi dan menjadi kuning tidak segar, lalu ketika air dalam tandon sudah tinggal sedikit juga tidak diketahui dan sebagai akibatnya nutrisi dalam tandon terlalu tinggi untuk air yang sedikit. Untuk tanaman kangkung, pada minggu awal tidak diukur, dan baru dilakukan pengukuran pada minggu kedua. Selain itu, kendala yang dihadapi yaitu serangan hama pada tanaman kangkung pada sistem DFT, karena instalasi diletakkan diluar ruangan maka sangat mudah terserang hama, sehingga saat pemanenan dilakukan yang tersisa hanyalah batang dengan daun sisa. Pada tanaman sawi juga mengalami hal yang sama tetapi tidak separah kangkung.
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan yang didapatkan pada praktikum pengamatan tanaman kangkung dan sawi dengan sistem hidroponik
diantaranya, yaitu:
1.
Untuk tanaman
hidroponik komoditi kangkung yang ditanam menggunakan sistem NFT hasil panen
tanaman lebih baik daripada kangkung yang ditanam denggan sistem DFT karena ada
beberapa hama dan penyakit tanaman yang membuat daun kangkung habis.
Selanjutnya itu untuk hasil panen komoditi sawi dengan menggunakan system DFT
ukuran tanaman tinggi, berdaun lebar dan berdaun banyak.
2.
Pengaruh EC, pH,
dan nutrisi pada tanaman diantarannya yaitu EC ini untuk mengetahui cocok tidaknya larutan
nutrisi untuk tanaman, karena kualitas larutan nutrisi sangat menentukan
keberhasilan produksi. Semakin
tinggi garam yang terdapat dalam air, semakin tinggi EC-nya. Konsentrasi garam
yang tinggi dapat merusak akar tanaman dan mengganggu serapan nutrisi dan air. Setiap jenis dan umur tanaman membutuhkan larutan
dengan EC yang berbeda-beda. Kebutuhan EC disesuaikan dengan fase pertumbuhan,
yaitu ketika tanaman masih kecil, EC yang dibutuhkan juga kecil. Semakin
meningkat umur tanaman semakin besar EC-nya.
3. Faktor eksternal meliputi sinar matahari, suhu udara, kelembaban udara, suhu perakaran, kualitas air baku, ketersediaan nutrisi serta hama dan penyakit. Pada praktikum ini faktor eksternal yang memiliki peran penting adalah ketersediaan nutrisi dan hama penyakit.Tanaman akan terlihat kuning, tidak ssegar dan pertumbuhan lambat karena mengalami defiseiensi nutrisi. Selain itu keberadaan hama dan penyakit mengakibatkan habisnya daun kangkung, hal itu menjadi resiko dari peletakan instalasi diluar greenhouse.
5.2 Saran
Saran
pada praktikum penanaman dengan menggunakan teknik hidroponik yaitu, pembaca
diharapkan untuk dapat mengembangkan teknik bertanam hidroponik secara
maksimal.Hal tersebut diharapkan mampu meningkatkan hasil produksi pangan
terutama jenis-jenis tanaman holtikultur yang mempunyai nilai ekonomi yang
tinggi walaupun dengan keadaan lahan yang minim.
DAFTAR
PUSTAKA
Cahyono. 2003. Teknik dan Strategi Budidaya sawi Hijau. Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
Chaidin. 2007. Sistem Hidroponik Pada Tanaman . UI Press. Jakarta.
Djuariah. 2007. Budidaya Hidroponik. Grafindo. Jakarta.
Harjoko. 2009. Studi Macam Media dan Pengukuran Debit Aliran terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sawi (Brassica juncea L.) secara Hidroponik NFT. Agrosains 11(2): 58-62.
Hudoro. 2003. Budidaya Hidroponik. Grafindo. Jakarta.
Rukmana. 2002. Budidaya Tanaman Sawi. Penebar Swadaya. Jakarta.
Savvas dan manos. 1999. Automated composition control of nutrient solution in closed soilless culture systems. J.Agric.Eng.Res. 73 : 29-33.
Wijayani.
1998. Pemberian
nitrogen pada berbagai macam media tumbuh hidroponik : pengaruhnya terhadap
kuantitas dan kualitas buah paprika (Capsicum annuum var. Grossum). Ilmu
Pertanian 6 (2) : 8-13

Posting Komentar untuk "Laporan Akhir Praktikum Teknik Hidroponik " PENGAMATAN TANAMAN KANGKUNG DAN SAWI DENGAN SISTEM HIDROPONIK""